POTENSI EKONOMI EKOSISTEM HUTAN MANGROVE DI DESA KULU, KECAMATAN WORI KABUPATEN MINAHASA UTARA
- Mata Kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan Medan, Mei 2021
POTENSI
EKONOMI EKOSISTEM HUTAN MANGROVE DI DESA KULU, KECAMATAN WORI KABUPATEN
MINAHASA UTARA
Dosen Penanggungjawab :
Dr.
Agus Purwoko, S.Hut., M.Si
Oleh :
Adinda Rahmayani
191201056
Hut 4C
PROGRAM
STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS
KEHUTANAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
MEDAN
2021
KATA
PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan
kehadirat Tuhan yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya
sehigga penulis dapat menyelesaikan penulisan Paper Ekonomi Sumber Daya Hutan yang
berjudul “Potensi Ekonomi Ekosistem
Hutan Mangrove Di Desa Kulu, Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara”
ini dengan baik dan tepat waktu. Adapun Paper Ekonomi Sumber Daya Hutan ini
disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata
kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan, Program Studi Kehutanan, Fakultas kehutanan,
Universitas Sumatera Utara.
Dalam proses penyelesaian paper ini,
penulis mendapatkan banyak bantuan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, penulis
mengucapkan terima kasih kepada Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si. selaku dosen
pembimbing mata kuliah Ekonomi sumber Daya Hutan, yang telah mengajarkan materi
dengan baik. Begitu juga kepada semua asisten yang membantu mengarahkan penulis dalam penyelesaian paper dengan
baik.
Penulis
sadar bahwa penulisan laporan ini masih jauh dari kata sempurna, baik dari segi
teknik maupun materi. Untuk itu, penulis
sangat mengharapkan kritik dan saran yang dapat membantu penulis demi
peyempurnaan Paper Ekonomi Sumber Daya Hutan ini. Akhir kata, semoga Paper ini
bermanfaat bagi kita semua.
Medan, Mei 2021
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA
PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR
ISI.........................................................................................................
ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...............................................................................................
1
1.2 Rumusan Masalah..........................................................................................
2
1.3 Tujuan ............................................................................................................ 2
BAB II ISI
2.1 Karakteristik Hutan Mangrove.......................................................................3
2.2 Kmposisi Jenis dan Volume Tegakan
Mangrove .......................................... 3
2.3 Nilai-Nilai Manfaat Ekonomi Hutan
Mangrove............................................4
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan.....................................................................................................6
3.2 Saran...............................................................................................................6
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hutan
mangrove merupakan ekosistem utama pendukung kehidupan yang penting di wilayah
pesisir dan lautan. Keberadaan vegetasi dan fauna yang terdapat di hutan
mangrove merupakan potensi yang dapat dikembangkan dalam pemenuhan kebutuhan
sosial, ekonomi, dan lingkungan. Semua keanekaragaman potensi tersebut sudah
lama dimanfaatkan untuk kehidupan manusia baik secara langsung maupun tidak
langsung. Hutan mangrove memiliki fungsi ekologis sebagai penyedia nutrien bagi
biota perairan, tempat pemijahan dan asuhan bagi berbagai macam biota, penahan
abrasi, amukan angin topan, dan tsunami, penyebab limbah, mencegah intrusi air
laut dan lain sebagainya (Kustanti, 2011).
Sifat
dan bentuk yang dimiliki dari ekosistem mangrove sangat khas serta mempunyai
fungsi dan manfaat yang beraneka ragam bagi masyarakat sekitar kawasan hutan
mangrove maupun bagi makhluk hidup lainnya yang berada di wilayah tersebut.
Oleh karena itu ekosistem mangrove tersebut dimasukkan dalam salah satu
ekosistem pendukung kehidupan yang penting dan perlu dipertahankan
kelestariannya. Diperlukan perhitungan nilai ekonomi sumber daya hutan mangrove
yang merupakan suatu upaya untuk melihat manfaat dan biaya dari sumber daya dalam
bentuk moneter yang lebih mempertimbangkan lingkungan. Nilai ekonomi total
suatu sumber daya alam secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua
yaitu, pertambahan nilai atas dasar penggunaan (Use Value) . Ini diartikan
sebagai nilai yang dimanfaatkan secara langsung dari sumber daya dan
lingkungan. Use Value dibedakan menjadi tiga bagian yaitu penggunaan langsung,
nilai penggunaan tidak langsung dan nilai pilihan. Kemudian yang kedua adalah
nilai penggunaan tidak langsung (non Use Value) yang dikelompokkan menjadi dua
bagian yaitu nilai keberadaan atau eksistensi dengan warisan (Saprudin, 2011).
Kawasan
hutan mangrove selain berfungsi secara fisik sebagai penahan abrasi pantai juga
memiliki fungsi biologi. Mangrove menjadi penyedia bahan makanan bagi kehidupan
manusia terutama ikan, udang, kerang dan kepiting, serta sumber energi bagi
kehidupan di pantai seperti plankton, nekton dan algae. Terdapat 38 jenis
mangrove yang tumbuh di Indonesia, di antaranya yaitu marga Rhizophora,
Bruguiera, Avicennia, Sonneratia, Xylocarpus, Barringtonia, Luminitzera, dan
Ceriops. Secara ekologis pemanfaatan hutan mangrove di daerah pantai yang tidak
dikelola dengan baik akan menurunkan fungsi dari hutan mangrove itu sendiri
yang berdampak negatif pada potensi biota dan fungsi ekosistem hutan lainnya
sebagai habitat (Supriharyono, 2000).
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana
karakteristik hutan mangrove
2. Bagaimana
komposisi jenis dan volume tegakan mangrove
3. Apa
saja nilai-nilai manfaat ekonomi hutan mangrove
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui karakteristik Hutan
Mangrove
2. Untuk mengetahui
komposisi
jenis dan volume tegakan mangrove
3. Untuk mengetahui
nilai-nilai
manfaat ekonomi hutan mangrove
BAB III
PEMBAHASAN
2.1 Karakteristik Hutan Mangrove
Hutan mangrove di desa kulu Kecamatan wori Kabupaten Minahasa Utara yang memiliki luas sekitar 200,603 hektar tahun ditetapkan sebagai kawasan hutan lindung oleh Kementerian kehutanan merupakan himpunan antara komponen hayati dan nonhayati yang secara fungsional berhubungan satu dengan yang lain saling berinteraksi membentuk suatu ekosistem pengembangan hutan mangrove sangat diperlukan untuk meningkatkan pendapatan ekonomi maupun kondisi sosial masyarakat sekitar, namun diperlukan pertimbangan, penilaian dan analisis lingkungan yang baik bagi masyarakat tanpa harus memberikan dampak buruk bagi lingkungan dalam hal ini merusak ekosistem yang ada di dalam hutan mangrove. Karenanya keseimbangan lingkungan dan ekologi yang ada perlu menjadi perhatian dalam perencanaan pembangunan kawasan hutan mangrove.2.1 Komposisi Jenis Dan Volume Tegakan Mangrove
Komposisi jenis dan volume tegakan mangrove dianalisis
menggunakan metode analisis vegetasi PDF analisis vegetasi dilakukan untuk
mengevaluasi dominasi jenis dan volume tegakan berdasarkan jenis mangrove
titik-titik dasarkan data pada tabel 1 dapat dilihat dari UNP secara umum
komunitas mangrove di lokasi penelitian didominasi oleh Rhizophora SPP pada semua tingkat pertumbuhan titik hasil
perhitungan volume tinggalkan total pohon mangrove di lokasi penelitian diduga
sekitar 4.195,82 M3
2.2 Nilai-Nilai Manfaat Ekonomi Hutan
Mangrove
·
Nilai
Manfaat Langsung
Manfaat langsung yang ada di desa Kulu untuk saat ini
adalah pemanfaatan penangkapan dan pemancingan ikan dan kepiting yang dilakukan
di sekitar kawasan hutan mangrove. Terdapat delapan jenis ikan yang sering
ditangkap oleh masyarakat yaitu bobara, gutila, sako, behang, teripang,
baronang, goropa dan kepiting. Dari delapan jenis ikan di atas ikan teripang
memberikan nilai manfaat ekonomi yang paling besar yang bisa dirasakan
masyarakat secara langsung dibandingkan dari hasil penangkapan atau pemancingan
jenis ikan yang lain itu total nilai manfaat yang diperoleh dari hasil
pemanfaatan ini adalah Rp. 84.380.400 per tahun.
·
Nilai
Manfaat Tidak Langusng
Nilai manfaat tidak langsung hutan mangrove desaku
diperoleh dari fungsi hutan mangrove sebagai penahan abrasi ada pemecah gelombang
air laut dan hutan mangrove sebagai penahan intrusi air laut. Nilai manfaat
hutan mangrove sebagai penahan abrasi atau pemecah gelombang air laut adalah
sebesar Rp. 23.086.035.000 untuk jangka waktu 10 tahun, jadi per tahunnya
adalah Rp. 2.308.603.500. Nilai manfaat ini dihitung dengan pendekatan biaya
pembuatan konstruksi pemecah ombak dan penahan gelombang air laut berdasarkan
Panjang garis pantai Desa Kulu yang terlindungi hutan mangrove yaitu sekitar
1,05 km. Berdasarkan ancaman kehabisan air tawar jika tidak ada hutan mangrove,
perhitungannya didekati dengan penggunaan air sesuai kebutuhan dari masing-masing
keluarga. Hasil yang diperoleh adalah Rp. 458.622.500/tahun dengan 359 kepala
keluarga yang membutuhkan satu galon air per hari di mana harga 1 galon air
tawar Rp. 3500.
·
Nilai
Manfaat Pilihan
-Pemanfaatan bibit
mangrove
Nilai ekonomi dari pemanfaatan bibit mangrove Tentukan dari
hasil survei harga jual bibit mangrove di pasaran titik pada saat ini mulai
jual bibit mangrove Ukuran tinggi 40 cm sampai 100 cm adalah Rp 2.000 per
batang. Dengan hasil pengumpulan bibit mangrove di kawasan hutan mangrove
rata-rata per hektar 100 bibit mangrove dalam satu tahun dengan masa panen
rata-rata 4 bulan keuntungannya adalah 600.000 per hektar. Apabila dikaitkan
dengan luasan kawasan hutan mangrove di Desa Kulu yaitu 200,603 hektar. Nilai
ekonomi yang dihasilkan dari pemanfaatan bibit mangrove per tahunnya sebesar
Rp.120.360.000 untuk tiga kali panen.
-Pemanfaatan hasil kayu
hutan mangrove
Menghitung nilai ekonomi pemanfaatan hasil kayu hutan mangrove
adalah dengan menggunakan pendekatan harga pasar untuk hasil kayu komersil
secara keseluruhan. Nilai ekonomi dari pemanfaatan kayu mangrove dihitung
dengan mengalirkan volume tegangan total kayu mangrove 4.195,802 m3
dengan harga jual kayu Rp.800.000 per m3 dan menggunakan dasar
asumsi siklus tebang 25 tahun maka nilai manfaat hasil kayu mangrove untuk per
tahunnya adalah Rp. 134.266.240
·
Nilai
Manfaat Keberadaan
Nilai manfaat keberadaan untuk hutan mangrove di desa
kulu ditentukan dengan menggunakan metode CVM. Jumlah responden yang dipilih
sebagai sampel adalah 42 orang berdasarkan identitas mata pencaharian yang
berbeda dengan pendapatan perbulan dan mewakili keluarga masing-masing. Jumlah
tanggungan dari masing-masing responden juga dijadikan sebagai pertimbangan
untuk menyayangi sisanya perbulan sebagai biaya kesediaan untuk membayar oleh
masing-masing responden. Hasil yang didapat dari perhitungan biaya kesediaan
untuk membayar adalah Rp.5.650.000/tahun dan nilai rata-rata total yang
diperoleh adalah Rp. 134.523. Jadi nilai manfaat keberadaan hutan mangrove Desa
Kulu per tahunnya adalah Rp. 48.294.116.
·
Nilai
Manfaat Hutan Mangrove Untuk Ekowisata
Pemanfaatan hutan mangrove untuk
ekowisata, nilai ekonomis hutan mangrove untuk ekowisata ditentukan dengan
analisis daya dukung kawasan yaitu jumlah maksimum pengunjung yang secara fisik
dapat ditampung di kawasan Wisata. Dari hasil wawancara dan pengamatan di
lapangan, untuk daya tampung di kawasan hutan mangrove dengan kegiatan ekowisata
maksimal 250 orang. Namun untuk intensitasnya daya kunjung masih sekitar
rata-rata 75 orang perminggu. Apabila menggunakan pendekatan dengan harga tiket
masuk di kawasan wisata lainnya yaitu Rp. 3.500/orang untuk nilai ekonomis
hutan mangrove sebagai kawasan ekowisata adalah Rp. 262.500 per minggu atau Rp.12.600.000
per tahun.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1. Hutan mangrove merupakan ekosistem utama pendukung
kehidupan yang penting di wilayah pesisir dan lautan
2. Hutan mangrove memiliki fungsi ekologis sebagai
penyedia nutrien bagi biota perairan, tempat pemijahan dan asuhan bagi berbagai
macam biota, penahan abrasi, amukan angin topan, dan tsunami, penyebab limbah,
mencegah intrusi air laut dan lain sebagainya
3. Terdapat 38 jenis mangrove yang tumbuh di Indonesia,
di antaranya yaitu marga Rhizophora, Bruguiera, Avicennia, Sonneratia,
Xylocarpus, Barringtonia, Luminitzera, dan Ceriops.
4. Terdapat 5 nilai-nilai ekonomi pada hutan hutan
mangrove desa kulu yakni: nilai manfaat langsung, nilai manfaat tidak langsung,
nilai manfaat keberadaan, nilai manfaat untuk ekowisata dan nilai manfaat pemilihan.
5. Nilai
ekonomi dari pemanfaatan bibit mangrove pada saat ini mulai jual bibit mangrove
Ukuran tinggi 40 cm sampai 100 cm adalah Rp 2.000 per batang, maka nilai
ekonomi yang dihasilkan dari pemanfaatan bibit mangrove per tahunnya sebesar
Rp.120.360.000
Saran
Sebaiknya dilakukan sosialisasi yang jelas mengenai kegiatan
atau aktivitas seperti apa dan bagaimana yang bisa dilakukan dalam kawasan
hutan mangrove, supaya masyarakat tidak takut dan enggan untuk melakukan
kegiatan atau aktivitas dalam kawasan hutan mangrove tersebut dengan tujuan agar
pemanfaatan secara lansung pada hutan mangrove semakin meningkat.
DAFTAR PUSTAKA
Kalitouw DW, Darusman D,
Kusmana C. 2015. Potensi ekonomi ekosistem hutan mangrove di desa kulu,
Kecamatan wori Kabupaten Minahasa Utara. Jurnal
risalah kebijakan pertanian dan Lingkungan, 2(1): 17-24
Kementerian Kehutanan 2013. Persetujuan/
Penetapan Perubahan Peruntukan Dan Fungsi Kawasan Hutan Provinsi SK 434/Menhut-II/2013
Kustanti A. 2011 Manajemen Hutan
Mangrove Bogor (ID). PT. Penerbit Institut Pertanian Bogor
Saprudin, Halidah. 2011. Potensi
Dan Nilai Manfaat Jasa Lingkungan Hutan Mangrove Di Kabupaten Sinjai Sulawesi
Selatan. Jurnal Perlindungan Hutan Dan
Konservasi Alam, 9(3): 213-219
Suzanna BOL, Timban J, Kaunang R. Achmad
F. 2011. Valuasi Ekonomi Sumberdaya Hutan Mangrove Di Desa Kecamatan Likupang Barat
Kabupaten Minahasa Utara. Jurnal Agrisosioekonomi,
7(2): 29-38

Mantap kak
BalasHapusBagus, sangat bermanfaat
BalasHapusMantapp
BalasHapusSangat Informatif kak
BalasHapusbagus sekali
BalasHapusMau bertanya dong kak, apa saja kegiatan yang dapat dilakukan di kawasan ekowissta mangrove di desa kulu, minahasa utara ini kak? Apasih kak keunggulan nya daripada yang lain?
BalasHapusmantap sekali tuan putri
BalasHapusInformatif ya
BalasHapus